Rabu, 24 Desember 2008

God please help me......

I feel speechless..... Ketika saya baca semua hal yang menyudutkan dirinya masalah pernikahan. Saya sedih.... saya terpuruk.... tapi saya berjuang.... dengan segala hal-hal yang turut memperburuk situasi, saya tetap bertahan. Hanya berharap bantuan dari Yang Maha Kuasa yang memiliki hak atas hidup saya. Tapi bila keterpurukan ini dan kepedihan ini merupakan sebuah proses untuk meraih ridho Mu maka..... saya ikhlas ya Allah. Bila dia tak sanggup untuk menungguku maka hanya Kau yang Maha Mengetahui isi hati kami karena sesungguhnya Kau telah mengetahui janjiku padaMu.

Mungkin ini hanya sebuah fase menyebalkan sebelum datang bulan, tapi rasanya hormon saya benar2 memperburuk situasi. Beberapa hari belakangan ini saya kembali merutuki masa lalu saya dan kehilangan sedikit kepasrahan saya dengan mengeluarkan pertanyaan2 "mengapa saya tidak diijinkan menikah dengannya?", "mengapa banyak pihak yang selalu berusaha ikut campur masalah kami?" dan mengapa2 yang lainnya. Walaupun akhirnya saya sampai di suatu titik bahwa tampaknya Allah memang belum memberikan ridho nya untuk kami menikah. Kami memang hanya manusia biasa yang kadang merasa terburu2 dan tidak sabar. Padahal menurut Allah mungkin saya belum siap untuk menikahi seorang Giri, perlu sedikit banyak latihan lagi terutama latihan mengontrol emosi saya. Saya memohon dengan sangat kepada Allah untuk mempersiapkan kami berdua agar kelak pernikahan di antara kami akan membawa berkah, menjadikan pernikahan tersebut sakinah, mawadah, warrahmah dan memiliki keturunan yang baik, sempurna (tidak cacat fisik dan mental) dan shaleh. Amiin.
Insya Allah saya akan sabar menunggu saat itu datang tetapi saya sangat berharap bahwa hal ini dapat disadari juga oleh Giri.

Kamis, 18 Desember 2008

Jatuh Cinta......

Kemarin saya merasakan jatuh cinta (lagi)....... Saya jatuh cinta (lagi) kepada Giri. Hari itu saya melihat wajahnya bersinar dan lesung pipitnya terlihat sangat manis. Tidak seperti biasanya seringkali saya melihat dia mengernyitkan dahi, tapi kemarin dia sangat bersinar. Ya.. sholat memang membuat wajahnya semakin bersinar dan kondisi emosionalnya lebih stabil. Saya yakin itu. Karena saya cukup mengenalnya selama 6.5 tahun ini. Jika ini memang jalan yang Allah berikan sebagai proses agar kami dapat menikah, saya sangat bersyukur. Semoga penantian kami tidak sia-sia dan semua dapat menjadi indah pada waktunya. Insya Allah.... Amin.

Rabu, 10 Desember 2008

One Little Step leads to a Big Change

Hari kemarin saya banyak berdiskusi dengan G, ada sebuah langkah kecil yang diambilnya yang InsyaAllah akan memberikan perubahan besar bagi kami semua yang tentunya menjadi jauh lebih baik. Amin.

G menetapkan jadwal imam sholat lima waktu di kantornya, suatu langkah kecil yang mengandung komitmen dan tanggung jawab yang tinggi beserta sejuta kebaikan didalamnya. I hope it'll lead to a better change.... ^^

Doaku dijawabNya.....

Rabu, 03 Desember 2008

Konsistensi A.K.A Disiplin

Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.

Konsistensi sendiri itu apa? Hm... hari-hari belakangan ini saya banyak berpikir tentang arti 'konsistensi'. Makhluk apa sih sebenarnya sang konsistensi ini? Saya mungkin harus kembali membuka kamus besar bahasa Indonesia ^^ Yang jelas saya mulai menyadari bahwa diri saya sangat jauh dari kata ini dan saya ingin mulai mencoba mendekatkan diri saya kepada kata ini dan kata disiplin. Hari ini saya coba memulai sebuah program yang memerlukan konsistensi dan disiplin tinggi. Kalau saya bilang saat ini saya sangat jauh dari kata itu bukan berarti dulu saya jauh juga. Saya pernah sangat dekat dengan kata-kata tersebut, tapi seiring waktu, lingkungan dan kebiasaan saya yang buruk saya mulai menjauh dari kata-kata itu. Padahal posisi saya saat ini sangat memerlukan dukungan dari kata-kata itu.

Saya benar-benar ingin menikah dengan my dearest G, tapi sampai detik ini semua masih dalam status menggantung dan salah satu penyebab dari menggantungnya hal ini adalah tidak adanya konsistensi dari saya sendiri. Terkadang saya lupa bahwa fokus hidup saya saat ini adalah masalah diatas, kadang saya banyak memberikan toleransi kepada diri saya sendiri yang membuat saya kemudian lupa akan hal tersebut.

Saya ingin mencoba untuk bicara dengan mama masalah ini, tapi kenapa ketakutan saya sangat tinggi? Suatu hal yang aneh bukan? For somehow beliau mama saya kan? Dan kenapa saya harus takut? Saya lelah kalau harus bermain petak umpet terus dengan kedua orang tua saya, saya cape berbohong dan saya ingin kepastian untuk masa depan saya.

I'm tired to live for the expectations of people around me, i'm trying to live for myself, for my dreams. If I messed it up someday please forgive me.